Keheningan malam membuatku begitu hampa
Kesunyian ini begitu lirih kurasa
Menggebu kalbuku saatku menoleh ke arahnya
Seolah pendar bintang ku dapat di hatiku
Menari di peraduan jiwa yang penuh lara
Candaan di atas serpihan hati yang di terpa ombak duniawi
Kebahagiaan ini sungguh fana
Menunggu sang waktu dengan bunga gugur layu
Mengisi kekosongan hati dengan pelipur lara
Tak dapat kuluruskan tulang rusukmu ini
Tak dapat ku hianati hati yang suci
Sayap putih yang remuk telah lelah mengembara
Daun pintu membawaku terbang dalam impian yang tenggelam
Angin telah hangat menembus rongga dada ini
Sukmaku berlari mengejar desahan irama yang berdenting
Topeng nestapa kuperintah untuk membunuh sang tuan
Ironi yang syahdu tak dapat kubendung
Hinggaia muakkan dongen masa kini
Berlari di atas jembatan yang rapuh seakan tak mau terpelosok
Tersentak aroma jiwa yang menghangatkan seluruh raga
Mungkinkah menuju arahku ?
Bunga tidurku kini membangunkanku
Merasa hidup dengan menaiki pelangi yang tak lagi kelabu
Bangku coklat panjang itu membisikkanku
Lampion mungil itu menyapaku dengan semringah
Pijakanku serasa tak asing bagiku
Hembusan nafas itu terdengar di telinga kiriku
Wajah yang pusat pasi berubah jadi merah merona
Raga yang tak beku karna penantian
Kini ia cairkan dengan pelukan hangat tubuhnya
Terpenjara hati lembut itu
Takkan pernah ku lepas sayap putih itu
Kusambung tali hati yang kusam dengan ikatan yang pasti
Kurangkai kepingan jembatan yang rapuh itu menjadi dermaga kasih yang megah nan indah
Genggaman jarinya yang dingin takkan kulepas lagi
Melodi yang iringiku menjadi pengawal tidurku
Ku nikmati cahaya wajah yang warnai hidupku pagi ini
Ku dapati tatapan mata sendu penuh kasih yang mendamaikan jiwaku
Ku dapati senyum hangat yang menenangkan hati di setiap pagi
Karena pagi adalah awal yang indah untuk pertemuan kita
Creted By : S.N.P
Belum ada tanggapan untuk "PUISI - Tragedi 21 April"
Post a Comment